Selasa, 19 Oktober 2010

Menyilet Rumput

Menyilet Rumput

Cucuaca pagi itu  sangat cerah. Karena terlambat bangun pagi saya buru-buru bergegas ke sekolah dengan berharap loncong pagi tanda dimulainya pelajaran belum berbunyi. Tetapi sayang, usaha itu tidak bersasil.  Saya terlambat. Dengan muka kusut, saya masuk ke ruang kelas. Saya tahu, setelah pulang sekolah nanti, pasti saya akan dihukum.
Siang itu kami belajar dengan normal seperti biasanya. Guru masuk kelas sedangkan kami menerima pelajaran. Ketika istirahat, kami boleh jajan sesuka hati kami.
“Teng….teng…teng….” bel pulang berbunyi tepat pukul satu lewat empat puluh lima menit Waktu Indonesia Timur. Selepas doa penutup akhir pelajaran, saya sudah berada di depan kantor kepala sekolah, tempat siswa-siswi SMK Petra Timika berkumpul untuk mendengar penggumuman.
Dua orang terlamat masuk sekolah hari itu. Salah satunya ialah saya sendiri. Sedangkan yang lainya ialah, kakak kelas XII, Herlin Simiapen. Kami berdua berdiri di halaman depan ruang kepala sekolah.
Matahari sangat ganas membakar Timika siang itu. Pak Yosep Jauri memanggil dan memberikan saya silet baru. Tajamnya minta ampun. Awalnya, saya berpikir, saya akan menyukur jenggot Pak Yosep Jauri yang sepanggal itu. Soalnya, muka Pak Yosep berjenggot, laksana kambing.
          Dengan wajah yang tidak perna senyum alias pelit senyum, Pak Yosep membawa saya ke kelas ujung. Sampai di sana  tanggan Pak Yosep yang besar itu menunjuk ke arah tempat yang luas dan subur. Saat saya  memandang tempat yang luasa itu. Pikiran saya mulai kacau. Saya bertanya tanya dalam hati, apakah pak Yosep menyuruh saya membabat rumput itu dengan silet. Ternyata benar, Pak Yosep memerintakan saya memangkas rerumputan  yang subur dan lebat itu dengan menggunakan silet yang saya pegang. Lantas, Pak Yosep pergi meningalkan saya.

Beberapa menit kemudian, Pak Yosep kembali mengantarkan Herlin ke tampat saya bekerja. Karena ada dua orang yang terlambat, tempat yang subur dan lebat itu dibagi dua dua petak. Saya telah terlebih dahulu turun ke tempat itu. Beceknya minta ampun. Ternyata tempat itu berawa. Apa boleh buat, saya terpaksa turun terlebih dahule menginjak rawa. Saya sadar, jika protes malah nanti hukumannya ditambah. Sepatu putih yang saya kenakan itu tiba-tiba berubah warna menajadi hitam lumpur.
Di bawa terik matahari yang sangat ganas itu saya dan herlin memangkas rerumputan rawah yang subur. Rumput rumput itu sangat tajam. Mereka megiris tangan saya yang halus dan mulus. Dalam pikiran saya, jika ada ular yang melingkar di kaki saya, oh…mama, saya takut.
 Saya pun merasa diperlakuan tidak adil. Saya hanya mengunakan silet untuk memotong rumput, sedangkan si Herlin, anak kelas XII itu diberih sabit untum membabat. Entah mengapa Pak Yosep memperlakuan saya seperti itu, sampai saat ini saya tidak pernah tau.
 Waktu berlalu bersama hentakan tangan saya mengiris rumput. Saya mulai lelah. Saya istrahat sejenak untuk melepas lelah. Saat itu, mata saya mulai berkaca-kacar. Saya sadar dan berjanji dalam hati bahwa saya tidak akan terlambat lagi.
Seya terus bekerja hinga Jarum jam menunjuka pukul tiga soreh Waktu Indonesia Barat. Akhirnya, pekerjaan saya selesai. Dengan tangan dan kaki yang perih karena diiris  rumput rumput nakal itu, saya berjalan menuju ruang Pak Yosep dan melapor bahwa pekerjaan sudah selesai. Pak Yosep berjalan menuju tempat saya bekerja untuk mengecek pekerjaan yang telah saya selesaikan. setelah melihat pekerjaan beres, akhirnya Pak Yosep mengizinkan saya pulang. Si herlina suda terlebih dahulu diizinkan pulang. Ia mengunakan sabit, jadi ia lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Mulai saat itu, tidak  terlambat lagi. Sampai XII, saya tidak perna melakukan kesalahan yang sama. Saat saya diberi hukuman itu, saya baru kelas X SM. Pengalaman itu mengajak saya untuk lebih menghargai waktu.  (Betty Maga)

Jumat, 27 Agustus 2010

Pace Beli Kacamata

Yaklep su rasa stress, karena, kalau lia orang sedikit kabur atau tra jelas, karena dia pu mata su rusak, makanya dia pergi ke optic mo beli kaca mata.

Pelayan : "Siang pace, ada yang bisa di bantu?"
Yaklep: "sa pu mata su rusak, coba ko cari kaca mata yang pas kah...� Pelayan : "pace so pernah pake kacamata kah?"
Yaklep: "Ohh..belum...."
Pelayan : "Kalu bagitu torang periksa dulu. Mari Pace, torang ke tampa periksa."
Pelayan : "Pace, ini huruf apa?" (sambil tunjuk tu huruf yang sediki basar)
Yaklep: "aduh… tra jelas..."
Pelayan : "Kalu huruf ini?" (Sambil tunjuk huruf yang lebih basar)
Yaklep : "Masih kurang jelas..."
Pelayan : "aduh.. pace ini sudah huruf yang paling besar. Coba lihat lagi huruf apa ini?" (sambil tunjung huruf yang basarnya sama deng piring)
Yaklep: "Sama saja...masih tra jelas"
Pelayan : (sambil garu-garu kapala karena bingung) "Kenapa dari tadi pace ko bilang tra jelas terus, baru bagaimana ini?�
Yaklep: "habis, sa tra pernah sekolah jadi, bagai mana sa mau tau itu huruf apa...?"

sumber: http://ketawa.com/humor-lucu/det/6422/pace_beli_kacamata.html


Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Supported by Urban Designs